Apakah
yang dimaksud dengan syirik? Dan apa tafsiran firman Allah berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ
وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu
mendapat keberuntungan.” (Qs. al-Maidah: 35).
Syirik adalah suatu perbuatan (dalam sikap dan, atau niat)
terutama menyangkut aqidah di mana seseorang melakukan sesuatu bukan sepenuhnya
kerana Allah SWT atau secara sedar mencampur baurkan ke-esaan zat Allah SWT
dengan unsur-unsur lain yang menurut ajaran Islam dapat diertikan sebagai
perbuatan menyekutukan Alah SWT.
Demikian
pula, apabila seseorang berdoa, ber-istighatsah, meminta
pertolongan kepada bintang-bintang dan jin, atau mengerjakan
perbuatan-perbuatan kesyirikan lainnya. Oleh karena itu, jika ia melakukan
salah satu jenis ibadah tersebut, tetapi ditujukan kepada benda-benda mati,
orang-orang yang sudah mati ataupun orang yang tidak berada di tempatnya, maka
semua perbuatan ini termasuk menyekutukan Allah. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا
كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Dan
seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan
yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-An’am: 88).
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Jika
kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. az-Zumar: 65).
Adapun
mengenal wasilah (perantara) yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ
وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepada-Nya….”
(Qs. al-Maidah: 35),
Maksudnya
adalah ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara
mengerjakan segala ketaatan kepada-Nya. Pernyataan ini adalah tafsiran yang
dikemukakan oleh kebanyakan ahlul ‘ilmi.
Jadi,
shalat adalah salah satu bentuk taqorrub kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, sehingga ia disebut suatu wasilah. Begitu pula dengan menyembelih
hewan karena Allah, (tindakan tersebut) juga disebut sebagai suatu wasilah
(perantaraan). Puasa juga suatu wasilah. Sedekah-sedekah juga suatu wasilah.
Berzikir kepada Allah dan membaca al-Quran juga suatu wasilah. Inilah makna
dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ
“…Dan
bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya,
dan berjihadlah pada jalan-Nya...” (Qs. al-Maidah: 35).
Maksudnya
adalah carilah wasilah (jalan, perantaraan) yang dapat mendekatkan diri kepada
Allah dengan cara mengerjakan ketaatan kepada-Nya. Seperti inilah yang
dikatakan oleh Ibnu Katsir, Ibnu Jarir, al-Baghawi, dan ulama-ulama pakar
tafsir lainnya.
Jadi,
arti ayat tersebut adalah: carilah wasilah yang dapat mendekatkan diri kepada
Allah dengan cara mengerjakan ketaatan kepada-Nya, dan di mana pun kalian
berada mintalah pertolongan melalui segala wasilah yang disyariatkan oleh
Allah, seperti shalat, puasa, sedekah-sedekah, dan lain sebagainya. Seperti ini
pula maksud dari firman Allah dalam ayat lain berikut ini,
أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى
رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ
عَذَابَهُ
“Orang-orang
yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di
antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan
takut akan azab-Nya….” (Qs. al-Isra`: 57).
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para pengikut setianya juga bertaqarrub kepada
Allah dengan wasilah-wasilah yang telah Allah syariatkan tersebut, seperti
dengan jihad, puasa, shalat, zikir, membaca al-Quran, dan hal-hal lain yang
juga termasuk dalam kategori wasilah. Sedangkan keyakinan masyarakat umum,
bahwa yang dimaksud dengan wasilah adalah menggantungkan diri kepada
orang-orang yang sudah mati dan beristighatsah kepada para wali, maka keyakinan
seperti ini adalah keyakinan yang batil.
Seperti
itulah keyakinan orang-orang musyrik dahulu, yang telah Allah firmankan di
dalam ayat berikut ini,
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ
يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ
“Dan
mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan
kemadhorotan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berakta,
‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’.” (Qs. Yunus:
18).
Kemudian
Allah membantah mereka dengan firman-Nya,
قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ
فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Katakanlah,
‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di
langit dan tidak (pula) di bumi?’ Mahasuci Allah dan Dia Mahatinggi dari segala
sesuatu yang mereka mempersekutukan (itu).” (Qs. Yunus: 18).